Senin, 14 Desember 2015

Gastritis

A. Pengertian
Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung (Medicastore, 2003).
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung
(Suyono, 2001). David Ovedorf (2002) mendefinisikan gastritis sebagai inflamasi
mukosa gaster akut atau kronik.
Gastritis yaitu peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang
berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan
iritan lain (Reeves, 2002).

B. Klasifikasi
Gastritis ada 2 kelompok yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Salah satu
bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis akut erosif. Gastritis
akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut dengan kerusakankerusakan
erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam
daripada mukosa muskularis.
Gastritis kronik bukan merupakan lanjutan dari gastritis akut, dan keduanya
tidak saling berhubungan. Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian
permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus
lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri helicobacter pylori. Gastritis kronik
juga masih dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B. Gastritis kronik
tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini berhubungan dengan atropi
dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik
mempengaruhi produksi antibodi. Anemia pernisiosa berkembang pada proses ini.
Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini berhubungan dengan infeksi
helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.

C. Penyebab
Penyebab gastritis adalah obat analgetik anti inflamasi terutama aspirin; bahan
kimia, misalnya lisol; merokok; alkohol; stres fisis yang disebabkan oleh luka bakar,
sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf
1

pusat; refluk usus lambung (Inayah, 2004, hal : 58). Gastritis juga dapat disebabkan
oleh obat-obatan terutama aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (AINS), juga
dapat disebabkan oleh gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung seperti trauma, luka
bakar dan sepsis
Gastritis bakterialis biasanya merupakan akibat dari infeksi oleh Helicobacter
pylori (bakteri yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan lambung).
Bakteri ini bisa menyebabkan gastritis menetap atau gastritis sementara.
Gastritis karena stres akut, merupakan jenis gastritis yang paling berat, yang
disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera) yang terjadi secara tiba-tiba.
Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung, seperti yang terjadi pada luka
bakar yang luas, operasi besar, gagal ginjal, gagal nafas, penyakit hari yang berat,
septicemia atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat. Gambaran yang sama
tentang gasstritis ini disebut gastritis akut erosif. Kira-kira 90% pasien yang dirawat
di ruang intensif menderita gastritis akut erosif ini.
Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari bahan iritan seperti obatobatan,
terutama aspirin dan obat anti peradangan non-steroid lainnya, penyakit
Crohn, serta infeksi virus dan bakteri. Gastritis ini terjadi secara perlahan pada orangorang
yang sehat, bisa disertai dengan perdarahan atau pembentukan ulkus (borok,
luka terbuka). Gastritis ini paling sering terjadi pada alkoholis.
Gastritis karena virus atau jamur bisa terjadi pada penderita penyakit menahun
atau penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan. Gastritis eosinofilik bisa
terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil (sel
darah putih) terkumpul di dinding lambung.
Gastritis atrofik terjadi jika antibodi menyerang lapisan lambung, sehingga
lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya
yang menghasilkan asam dan enzim. Keadaan ini biasanya terjadi pada usia lanjut.
Gastritis ini juga cenderung terjadi pada orang-orang yang sebagian lambungnya telah
diangkat (menjalani pembedahan gastrektomi parsial). Gastritis atrofik bisa
menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vitamin B12 dari
makanan. Pada gastritis atrofik, infiltrat menginflamasi lamina propria dengan
menghilangnya kelenjar-kelenjar. Jika atrofi gaster menjadi komplit, elemen kelenjar
berkurang atau hampir tidak ada, tetapi tidak terdapat sel radang, anemia pernisiosa
dapat timbul pada gastritis jenis ini.
2

Penyakit Menetrier merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak
diketahui. Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar
dan memiliki kista yang terisi cairan. Sekitar 10% penderita penyakit ini menderita
kanker lambung. Gastritis juga bisa terjadi jika seseorang menelan bahan korosif atau
menerima terapi penyinaran kadar tinggi.

D. Patofisiologi
Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obatobatan
dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang
mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang
akan meningkatkan produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya HCl
yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel
kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya.
Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut
tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi
diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang
memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh darah.
Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat.
Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh karena
kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi
mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan
mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosi memicu
timbulnya sindrom dyspepsia.

E. Tanda dan Gejala
Gejalanya tergantung kepada jenis gastritisnya. Penderita gastritis mengalami
gangguan pencernaan (indigesti) dan rasa tidak nyaman di perut sebelah atas. Pada
gastritis karena stres akut, penyebabnya (misalnya penyakit berat, luka bakar atau
cedera) biasanya menutupi gejala-gejala lambung; tetapi perut sebelah atas terasa
tidak enak.
Segera setelah cedera, timbul memar kecil di dalam lapisan lambung. Dalam
beberapa jam, memar ini bisa berubah menjadi ulkus. Ulkus dan gastritis bisa
3

menghilang bila penderita sembuh dengan cepat dari cederanya. Bila penderita tetap
sakit, ulkus bisa membesar dan mulai mengalami perdarahan, biasanya dalam waktu
2-5 hari setelah terjadinya cedera. Perdarahan menyebabkan tinja berwarna kehitaman
seperti aspal, cairan lambung menjadi kemerahan dan jika sangat berat, tekanan darah
bisa turun. Perdarahan bisa meluas dan berakibat fatal. Pada sebagian besar kasus,
gejalanya amat ringan bahkan asimptomatis. Keluhan itu misalnya nyeri pada ulu hati
yang biasanya ringan.
Gejala dari gastritis erosif kronis berupa mual ringan dan nyeri di perut
sebelah atas. Tetapi banyak penderita (misalnya pemakai aspirin jangka panjang)
tidak merasakan nyeri. Penderita lainnya merasakan gejala yang mirip ulkus, yaitu
nyeri ketika perut kosong. Jika gastritis menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung,
gejalanya bisa berupa tinja berwarna kehitaman seperti aspal (melena), serta muntah
darah (hematemesis) atau makanan yang sebagian sudah dicerna, yang menyerupai
endapan kopi.
Gejala lainnya dari gastritis kronik adalah anoreksia, mual-muntah, diare, sakit
epigastrik dan demam. Perdarahan saluran cerna yang tak terasa sakit dapat terjadi
setelah penggunaan aspirin. Pada gastritis eosinofilik, nyeri perut dan muntah bisa
disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju
ke usus dua belas jari.
Penyakit Meniere, gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri lambung.
Hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan penurunan berat badan, lebih jarang
terjadi. Tidak pernah terjadi perdarahan lambung. Penimbunan cairan dan
pembengkakan jaringan (edema) bisa disebabkan karena hilangnya protein dari
lapisan lambung yang meradang. Protein yang hilang ini bercampur dengan isi
lambung dan dibuang dari tubuh.
Pada gastritis sel plasma, nyeri perut dan muntah bisa terjadi bersamaan
dengan timbulnya ruam di kulit dan diare. Gastritis akibat terapi penyinaran
menyebabkan nyeri, mual dan heartburn (rasa hangat atau rasa terbakar di belakang
tulang dada), yang terjadi karena adanya peradangan dan kadang karena adanya tukak
di lambung. Tukak bisa menembus dinding lambung, sehingga isi lambung tumpah ke
dalam rongga perut, menyebabkan peritonitis (peradangan lapisan perut) dan nyeri
yang luar biasa. Perut tampak kaku dan keadaan ini memerlukan tindakan
pembedahan darurat. Kadang setelah terapi penyinaran, terbentuk jaringan parut yang
4

menyebabkan menyempitnya saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari,
sehingga terjadi nyeri perut dan muntah. Penyinaran bisa merusak lapisan pelindung
lambung, sehingga bakteri bisa masuk ke dalam dinding lambung dan menyebabkan
nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba.

F. Diet Pada Gastritis
Diet pada penderita gastritis adalah diet lambung. Prinsip diet pada penyakit
lambung bersifat ad libitum, yang artinya adalah bahwa diet lambung dilaksanakan
berdasarkan kehendak pasien. Prinsip diet diantaranya pasien dianjurkan untuk makan
secara teratur, tidak terlalu kenyang dan tidak boleh berpuasa. Makanan yang
dikonsumsi harus mengandung cukup kalori dan protein (TKTP) namun kandungan
lemak/minyak, khususnya yang jenuh harus dikurangi.
Makanan pada diet lambung harus mudah dicernakan dan mengandung serat
makanan yang halus (soluble dietary fiber). Makanan tidak boleh mengandung bahan
yang merangsang, menimbulkan gas, bersifat asam, mengandung minyak/ lemak
secara berlebihan, dan yang bersifat melekat. Selain itu, makanan tidak boleh terlalu
panas atau dingin.
Beberapa makanan yang berpotensi menyebabkan gastritis antara lain garam,
alkohol, rokok, kafein yang dapat ditemukan dalam kopi, teh hitam, teh hijau,
beberapa minuman ringan (soft drinks), dan coklat. Garam dapat mengiritasi lapisan
lambung. Beberapa penelitian menduga bahwa makanan bergaram meningkatkan
resiko pertumbuhan infeksi Helicobacter pylori. Gastritis juga biasa terjadi pada
alkoholik. Perokok berat dan mengkonsumsi alkohol berlebihan diketahui
menyebabkan gastritis akut. Makanan yang diketahui sebagai iritan, korosif, makanan
yang bersifat asam dan kopi juga dapat mengiritasi mukosa lambung.

G. Pengobatan
Pengobatan umum terhadap gastritis adalah menghentikan atau menghindari
faktor penyebab iritasi, pemberian antasid dan simptomatik lain, dan pada gastritis
atrofik dengan anemia pernisiosa diobati dengan B12 intramuskuler
(hydroxycobalamin atau cyanocobalamin).
5

Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan
bismuth, antibiotik (misalnya amoksisilin dan klaritromisin) dan obat anti-tukak
(omeprazol).
Penderita gastritis karena stres akut banyak yang mengalami penyembuhan
setelah penyebabnya (penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi
sekitar 2% penderita gastritis karena stres akut mengalami perdarahan yang sering
berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan dengan memberikan antasid (untuk
menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau
menghentikan pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat karena gastritis akibat
stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan pada tindakan endoskopi.
Jika perdarahan berlanjut, mungkin seluruh lambung harus diangkat.
Eradikasi Helicobacter pylori merupakan cara pengobatan yang dianjurkan
untuk gastritis kronis yang ada hubungannya dengan infeksi oleh kuman tersebut.
eradikasi dapat mengembalikan gambaran histopatologi menjadi normal kembali.
Eradikasi dapat dicapai dengan pemberian kombinasi penghambat pompa proton dan
antibiotik. Antibiotik dapat berupa tetrasiklin, metronidasol, klaritromisin, dan
amoksisilin. Kadang-kadang diperlukan lebih dari satu macam antibiotik untuk
mendapatkan hasil pengobatan yang baik.
Gastritis erosif kronis bisa diobati dengan antasid. Penderita sebaiknya
menghindari obat tertentu (misalnya aspirin atau obat anti peradangan non-steroid
lainnya) dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa
mengurangi resiko terbentuknya ulkus karena obat anti peradangan non-steroid.
Untuk meringankan penyumbatan di saluran keluar lambung pada gastritis eosinofilik,
bisa diberikan kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
Gastritis atrofik tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar penderita harus
mendapatkan suntikan tambahan vitamin B12. Gastiritis karena penyakit Menetrier
bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung. Sedangkan
gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat ulkus yang menghalangi pelepasan asam
lambung.
 
 
>>

 
 
 



Rabu, 17 Desember 2014

Tutorial metabolisme sel

KARBOHIDRAT
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehida dan polihidroksi keton atau turunan mereka.
Karbohidrat, biasa disebut dengan gula, berperan penting dalam molekul-molekul biologis, seperti asam nukleat (DNA dan RNA), dan dalam bentuk-bentuk polimer, seperti selulosa (dinding sel) dan glikogen (glukosa tersimpan dalam hati).
KLASIFIKASI KARBOHIDRAT
a)      MONOSAKARIDA
Karbohidrat paling sederhana, bila mempunyai gugus aldehid, disebut aldosa, bila mempunyai gugus keton, disebut ketosa/ulosa. Setiap monosakarida mempunyai jumlah atom karbon tertentu yang dikandungnya (misal:  triosa (3C), tetrosa (4C), pentosa (5C), heksosa (6C). Dalam makanan kita, umumnya heksosa (glukosa dan fruktosa).
b)      DISAKARIDA
                                i.            Sukrosa : gabungan glukosa dan fruktosa
                              ii.            Laktosa  : gabungan glukosa dan galaktosa
Dikenal sebagai gula susu.
                            iii.            Maltosa  : gabungan glukosa dan glukosa
Adalah hasil penguraian pati oleh enzim α-1,4-glukan 4-glukanohidrolase yang terdapat dalam air liur.  
                            iv.            Isomaltosa : gabungan glukosa dan glukosa
                              v.            Sellobiosa: gabungan glukosa dan glukosa
c)      OLIGOSAKARIDA
d)     POLISAKARIDA
Senyawa yang molekulnya mengandung banyak satuan monosakarida yang dipersatukan dengan ikatan glukosida. Contohnya : selulosa, pati, kitin. Hidrolisis lengkap akan mengubah suatu polisakarida menjadi monosakarida.




LEMAK
Lemak adalah golongan senyawa organik yang sangat heterogen strukturnya. Mengandung unsur C, H, O, kadang-kadang nitrogen  dan fosfor. Lemak diisolasi dari sel dan larut dalam pelarut organik nonpolar (kloroform, dietileter). Nilai kalorinya 9cal/gram. Struktur dan fungsinya bervariasi, misalnya: asam lemak, triasilgliserol, terpena, fosfolipid, prostaglandin, lilin, dan lain-lain. Melarutkan vitamin A, D, E, K. Mengandung asam lemak esensial  (asam linolenat dan linoleat). Asam arakhidonat disintesis dari asam linoleat. Berperan pada metabolisme tumbuhan dan binatang, menjaga gangguan mekanik, mempertahankan suhu optimum tubuh.

 









PROTEIN
PROTEIN merupakan suatu makromolekul, juga disebut POLIAMIDA, bila  dihidrolisis menghasilkan ASAM-ASAM AMINO,dalam tubuh hidrolisis dimulai pada lambung dengan bantuan enzim pepsin.
FUNNGSI PROTEIN :
ü  Pembentuk struktur sel berbagai jaringan
ü  Pemelihara/pengganti sel-sel yang ada/rusak
ü  Enzim (katalisator proses biokimia sel)
ü  Sebagai hormon, mengatur fungsi berbagai organ tubuh
ü  Sebagai antibodi (juga disebut imunoglobulin)
ü  Sebagai gen : pembawa sifat pada kromosom
ü  Alat transportasi
Asam amino merupakan hasil hidrolisis dari protein, ada yang dapat disintesis dalam tubuh ( non essensial ), tetapi ada juga yang tidak dapat, jadi harus diperoleh dari luar (asam amino essensial).

ASAM AMINO ESSENSIAL
ü  Isoleusin
ü  Leusina
ü  Treonina
ü  Lisina
ü  Metionina
ü  Fenilalanina
ü  Triptofan
ü  valina
ASAM AMINO NONESSENSIAL
ü  Alanina
ü  Arginina
ü  Asparagina
ü  Asam aspartat
ü  Sisteina
ü  Asam glutamat
ü  Histidina
ü  Glutamina
ü  Glisina
ü  Prolina
ü  Serina
ü  Tirosina
Protein lengkap yaitu mengandung semua asam amino essensial ( telur, susu, ginjal, hati ). Sedangkan protein tidak lengkap seperti jagung ( protein utamanya Zein, kurang lisina & triptofan ), gandum ( kurang lisina ) dan gelatin ( kurang triptofan ).


 >>

Perkembangan normal pada anak usia 9 tahun


1. Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya.
2. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak – anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus ketrampilan – ketrampilan motorik, anak – anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu, anak – anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dll.
Beberapa perkembangan motorik (kasar  maupun halus) selama periode ini, antara lain :
*      Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
*      Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
*      Ketrampilan lebih individual
*      Ingin terlibat dalam sesuatu
*      Menyukai kelompok dan mode
*      Mencari teman secara aktif.
3. Perkembangan Kognitif
Dalam keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur – angsur. Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang lebih konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada pada stadium belajar.
Menurut teori Piaget, pemikiran anak – anak  usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional Konkrit (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek  peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi – operasi, yaitu :
a). Negasi (Negation), yaitu pada masa konkrit operasional, anak memahami hubungan-hubungan antara benda atau keadaan yag satu dengan benda atau keadaan yang lain.
b). Hubungan Timbal Balik (Resiprok), yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat dalam suatu keadaan.
c). Identitas, yaitu anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada.
Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata.
a. Perkembangan Memori
Selama periode ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya keterbatasan – keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy), yaitu merupakan perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu :
Rehearsal (Pengulangan) : Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan.
Organization (Organisasi) : Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
Imagery (Perbandingan) : Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang.
Retrieval (Pemunculan Kembali) : Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan.
Selain strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan dan motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya.
b. Perkembangan Pemikiran Kritis
Perkembangan Pemikiran Kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu befikir secara reflektif dan evaluatif.
c. Perkembangan Kreativitas
Dalam tahap ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan sekolah.
d. Perkembangan Bahasa
Selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.
4. Perkembangan Psikosial
Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan  yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan – peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya.
a. Perkembangan Pemahaman Diri
Pada tahap ini, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik eksternal.
b. Perkembangan Hubungan dengan Keluarga
Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebelumnya, karena rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial.
c. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak idak lagi puas bermain sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai kenginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok
2.      Etiologi retardasi mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial (Maslim,1998).
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa factor yang potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shonkoff JP (1992) dibawah ini.
Faktor-Faktor Yang Potensial Sebagai Penyebab Retardasi Mental
1.      Non-Organik
*      Kemiskinan dan keluarganya yang tidak harmonis
*      Factor sosio cultural
*      Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik
*      Penelantaran anak
2.      Oraganik
*      Faktor prakonsepsi
a.       Abnormalitas single gene ( penyakit –penyakit metabolik, kelainan neurokutaneus, dll )
b.      Kelainan kromosom ( X-linked, translokasi, fragile-X), sindrom polygenic familial.
*      Factor prenatal
a.       Gangguan pertumbuhan otak trimester I
v  Kelainan kromosom ( trisomi, mosaik, dll)
v  Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV
v  Zat-zat teratogen ( alcohol, radiasi, dll )
v  Disfungsi plasenta
v  Kelainan congenital dari otak (idiopatik)
b.      Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
v  Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV
v  Zat- zat teratogen ( alcohol, kokain, logam berat, dll )
v  Ibu : diabetes mellitus, PKU ( phenilketonuria )
v  Toksemia gravidarum
v  Disfungsi plasenta
v  Ibu malnutrisi
*      Factor perinatal
a.       Sangat premature
b.      Asfiksia neonatorum
c.       Truma lahir : perdarahan intracranial
d.      Meningitis
e.       Kelainan metabolic : hipoglikemik, hiperbilirubinemia
*      Factor post natal
a.       Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
b.      Neurotoksin, misalnya logam berat
c.       CVA ( Cerebrovaskuler accident )
d.      Anoksia, misalnya tenggelam
e.       Metabolic
v  Gizi buruk
v  Kelainan hormonal, misalnya hipotiroid, pseudohipotiroid
v  Amino aciduria, misalnya PKU
v  Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia dll
v  Polisakaridosis, misalnya sindrom Hurler
v  Cerebral lipidosis ( Tay Sachs ), dengan hepatomegali ( Gaucher )
v  Penyakit degeneratif/ metabolic lainnya.
f.        Infeksi
v  Meningitis, ensefalitis, dll.
v  Subakut sklerosing panasefalitis
Kebanyakan anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan social ekonomi rendah akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya maturasi. Demikian pula dengan keadaan social ekonomi yang rendah dapat sebagai penyebab organic dari retardasi mental, misalnya keracunan logam berat yang subklinik dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, ternyata lebih banyak pada anak-anak dikota dari golongan social ekonomi rendah. Demikian pula dengan kurang gizi, baik pada ibu hamil maupun pada anaknya setelah lahir dapat mempengaruhi pertumbuhan otak anak.



 >>