Selasa, 10 Mei 2011

RESUSITASI BAYI

 RESUSITASI ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)
RESUSITASI adalah pernafasan dengan menerapkan masase jantung dan pernafasan buatan.(Kamus Kedokteran, Edisi 2000)
Kira-kira 10% bayi baru lahir memerlukan bantuan untuk memulai pernafasan saat lahir, dan sekitar 1 % saja yang memerlukan resusitasi lengkap mulai dari pembersihan jalan nafas hingga pemberian obat-obatan darurat.
Untuk amannya, setiap akan menolong bayi baru lahir ada 5 pertanyaan yang harus mampu dijawab oleh petugas kesehatan untuk menentukan apakah tindakan pemberian resusitasi untuk bayi baru lahir diperlukan .
PERHATIKAN KONDISI BAYI BARU LAHIR TERSEBUT DAN PASTIKAN JAWABAN DARI SALAH SATU DARI 5 PERTANYAAN TERSEBUT DIBAWAH INI ADALAH “TIDAK” SEBELUM MELAKUKAN RESUSITASI BAYI, ARTINYA RESUSITASI DIPERLUKAN ;
1) Apakah bersih dari mekonium ?
2) Apakah bernafas dan menangis dengan adekuat?
3) Apakah tonus otot baik?
4) Apakah warna kulit kemerahan ?
5) Apakah lahir dengan cukup bulan?
Apa tanda yang penting untuk melakukan Resusitasi :
1. Pernafasan
Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau bahwa pernafasan tidak adekuat.
 Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya pernafasan selama 1 menit. Nafas tersengal-sengal berarti nafas tidak efektif dan perlu tindakan, misalnya apneu. Jika pernafasan telah efektif yaitu pada bayi normal biasanya 30 – 50 x/menit dan menangis, kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
2. Denyut jantung – frekuensi
  Apabila penilaian denyut jantung menunjukkan bahwa denyut jantung bayi
tidak teratur.
 Frekuensi denyut jantung harus > 100 per menit. Cara yang termudah dan cepat adalah dengan menggunakan stetoskop atau meraba denyut tali pusat. Meraba arteria mempunyai keuntungan karena dapat memantau frekuensi denyut jantung secara terus menerus, dihitung selama 6 detik (hasilnya dikalikan 10 = frekuensi denyut jantung selama 1 menit)
Hasil penilaian ;
• Apabila frekuensi>100x / menit dan bayi bernafas spontan, dilanjutkan dengan menilai warna kulit.
• Apabila frekuensi < 100x / menit walaupun bayi bernafas spontan menjadi indikasi untuk dilakukan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
3. Warna Kulit
  Apabila penilaian warna kulit menunjukkan bahwa warna kulit bayi pucat
atau bisa sampai sianosis.
Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya kulit menjadi kemerahan. Jika masih ada sianosis central, oksigen tetap diberikan. Bila terdapat sianosis purifier, oksigen tidak perlu diberikan, disebabkan karena peredaran darah yang masih lamban, antara lain karena suhu ruang bersalin yang dingin.
Nilai APGAR tidak dipakai untuk menentukan kapan kita memulai resusitasi atau untuk membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi.
Resusitasi dilakukan dengan tujuan :
1. Memberikan ventilasi yang adekuat
2. Membatasi kerusakan serebi
3. Pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak, jantung dan alat – alat vital lainnya
4. Untuk memulai atau mempertahankan kehidupan ekstra uteri
Siapa yang memerlukan resusitasi :
Resusitasi dapat diberikan pada bayi, anak maupun dewasa yang memerlukan pernafasan buatan. Henti jantung dan henti nafas bukanlah kejadian yang sering terjadi walupun di Rumah Sakit. Kematian mendadak ini biasanya sebagai akibat stroke, infark miokardial, kelebihan dosis obat dan trauma hebat dapa dicegah bila tindakan resusitasi dilakukan secara tepat.
Resusitasi pada bayi diperlukan bila bayi dalam kondisi sebagai berikut :
1. Okulasi jalan nafas, misal tersedak, masalah pemberian makanan atau karena ada lendir.
2. Abnormalitas konginital yang tidak terdeteksi.
3. Sisa pengaruh depresi pernafasan setelah berkurangnya efek naloxone
4. Infeksi  
Resusitasi bayi dilakukan pada bagian tubuh yang disesuaikan dengan masalah / kondisi bayi , antara lain :
1. Untuk persalinan dimana ketuban mengandung mekoneum
Bila terdapat mekoneum dalam ketuban, petugas yang menolong persalinan harus menghisap cairan dari mulut, pharing, dan hidung bayi sebelum bahu dilahirkan, agar bayi tidak mengalami aspirasi mekoneum.
2. Untuk persalinan dimana ketuban tidak mengandung mekoneum
Bila tidak ada mekoneum, lahirkan bayi kemudian hisap lender dari mulut bayi terlebih dahulu, selanjutnya penghisapan dilakukan melalui hidung kanan – kiri.
LANGKAH AWAL RESUSITASI BAYI
Perkiraan waktu LAHIR
• BERSIH DARI MEKONEUM ?
• BERNAFAS&MENANGISDG ADEKUAT ?
• TONUS OTOT BAIK ?
• WARNA KULIT KEMERAHAN ?
• BAYI LAHIR CUKUP BULAN ?
T I D A K
30 detik
• Berikan kehangatan
• Posisikan, bersihkan jalan nafas (bila perlu)
• Keringkan, rangsang, posisikan lagi
• Beri oksigen (bila perlu)
• Evaluasi pernafasan,
 frekuensi jantung, Bernafas
• warna kulit FJ > 100 & Kemerahan
Lakukan VTP Perawatan Lanjut
Langkah awal meliputi :
1. Penentuan apakah neonatus memerlukan resusitasi
2. Membuka jalan nafas dan mencegah hipotermi
3. Bagaimana jika ketuban mengandunga mekoneum
4. Memberikan oksigen aliran bebas
Langkah awal resusitasi :
1. Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas. Biarkan bayi telanjang agar panas dari alat pemancar dapat mencapai bayi dan untuk mendapat pandangan penuh pada bayi
2. Meletakkan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya.
Bayi diletakkan terlentang atau miring dengan kepala sedikit tengadah. Dengan demikian posisi faring, laring, trakea dalam satu garis lurus. Pada posisi ini jalan nafas terbuka dan mudah dilakukan ventilasi dengan balon sungkup.
3. Bersihkan jalan nafas
Untuk persalinan dimana ketuban mengandung mekoneum. : yaitu sebelum bahu dilahirkan, petugas yang menolong persalinan harus menghisap cairan dari mulut, pharing dan hidung agar bayi tidak mengalami aspirasi mekoneum.
Untuk persalinan dimana ketuban tidak mengandung mekoneum : Lahirkan bayi kemudian hisap lender dari mulut bayi terlebih dahulu, selanjutnya penghisapan dilakukan melalui hidung kiri kanan. Jangan menghisap terlalu dalam ( gunakan kekuatan penghisapan 100 mmHg) penghisapan terlalu dalam mengakibatkan bradichardi. Mulut dihisap terlebih dahulu sebelum hidung karena penghisapan hidung merangsang bayi bernafas dan akan terjadi aspirasi jika faring belum bersih.
4. Mengeringkan tubuh
Pengeringan membantu mengurangi hipotermi dan juga merupakan rangsangan agar bayi bernafas / menangis. Handuk yang digunakan untuk mengeringkan harus diganti dengan yang baru / masih kering dan hangat sebagai selimut.
5. Rangsang Taktil
 Setelah bayi dibebaskan / dibersihkan jalan nafasnya dan dikeringkan tetap aneu / tidak menangis, berikan rangsang taktil agar bernafas / menangis.
Cara rangsang yang aman :
• Menepuk atau menyentil telapak kaki
• Menggosok punggung, perut atau ekstremitas bayi
6. Pemberian Oksigen Aliran Bebas
  Jika bayi bernafas tapi penilaian warna kulit menunjukkan adanya sianosis sentral tetap berikanlah oksigen aliran bebas 100 % (minimal 5L / menit) sampai sianosis sentral hilang.
7. Berikan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
• VTP dilakukan dengan sungkup dan balon resusitasi atau dengan sungkup dan tabung
• Kecepatan ventilasi 40 – 60 x / menit
• Tekanan ventilasi untuk nafas pertama 30 – 40 cm H2O, setelah nafas pertama membutuhkan tekanan 15-20 cm H2O
• Suara nafas didengar dengan menggunakan stetoskop.
• Apabila dengan tahapan dia tas dada bayi masih tetap kurang berkembang, sebaiknya dilakukan intubasi endotrakheal (ET).
Persiapan Resusitasi Bayi dilakukan bila diketahui faktor pada ibu atau bayi , antara lain :
o Prematuritas
o Malpresentasi yang telah diketahui, missal presentasi sungsang
o Penyakit maternal, missal hipertensi, diabetes militus
o Riwayat kelainan obstetric atau neonatus sebelumnya
o Denyut jantung janin abnormal yang menandakan adanya distress janin
o Persalinan dengan alat atau dengan operasi, terutama yang menggunakan anestesi umum
o Kegawatan obstetric, missal prolaps tali pusat, perdarahan antepartum, distosia, eklampsi
o Persalinan cepat
o Pedasi berat pada ibu, missal karena over dosis obat
o Adanya mekonium segar dalam cairan amnion 
Resusitasi Bayi diberikan segera setelah bayi baru lahir dengan keadaan bayi yang ciri utamanya :
1. Bayi menderita apneu saat dilahirkan
2. Bayi dengan upaya pernafasan yang lemah dan tidak efektif 
Resusitasi dapat dilakukan dengan baik sekalipun dengan jumlah alat yang minimal, disegala tempat, seperti rumah sakit atau dirumah.
 Di lingkungan rumah sakit tersedia peralatan standar dengan beberapa alat tambahan.
 Di rumah, papan atau meja setrika dapat digunakan sebagai alas resusitasi dan hati-hati agar tidak terjadi aspirasi. Penyesuaian alat untuk di rumah meliputi; kotak peralatan dasar portable yang dapat difungsikan secara efektif.
 Apa persiapan alat untuk melakukan resusiatsi?
o Alat pernafasan siap pakai
o Oksigen
Dibutuhkan sumber oksigen 100% bersama pipa okigen dan alat pengukurannya
o Alat penghisap
 Penghisap lendir kaca
 Penghisap mekanis
 Kateter penghisap no. 5F atau 6F, 8F, 10F
 Sonde lambung no. 8Fdan semprit 20ml
 Penghisap mikonium 
o Alat sungkup dan balon resusitasi
o Digunakan untuk meniupkan udara ke paru-paru bayi baru lahir dengan tidak merubah langkah-langkah resusitasi bayi yang benar dan tepat sesuai dengan prosedur. Keuntungannya menggunakan sungkup dan tabung resuscitator ini yaitu penolong dapat melihat pergerakan dada bayi dengan lebih jelas, dan kemungkinan penularan penyakit dari bayi kepada penolong dapat dicegah dan sebaliknya.
 Sungkup berukuran untuk bayi cukup bulan dan kurang bulan/premature (sungkup mempunyai pinggir yang lunak seperti bantal)
 Balon resusitasi neonatus dengan katub penurunan tekanan. Balon harus mampu memberikan oksigen 90 – 100 %. Pipa saluran pernafasan berukuran untuk bayi cukup bulan dan kurang bulan. Oksigen dilengkapi alat pengukur aliran oksigen dan pipa-pipanya.
o Alat intubasi
 Laringoskop dengan lidah lurus no. 0 (untuk bayi kurang bulan) dan no. 1 (untuk bayi cukup bulan)
 Lampu dan baterai ekstra untuk laringoskop
 Pipa endotrakeal ukuran 2,5; 3,0; 3,5; 4,0 mm
 Stilet
 Gunting
 Obat-obatan
 Sarung tangan 
o Obat-obat
 Epinefrin 1:10.000 dalam ampul 3 ml atau 10 ml
 Nalokson hidroklorit 0,4 mg/ml dalam ampul 1 ml atau 1 mg/ml dalam ampul 2 ml
 Volume exspander, salah satu yang berikut ini:
• 5% larutan albuin saline
• Larutan NaCL 0,9%
• Larutan ringer laktat
 Bikarbonat natrikus 4,2 % (5 mEq/10 ml) dalam ampul 10 ml
 Aquades steril 25 ml
 Larutan Nacl 0,9 %, 25 ml
o Lain-lain
 Stethoscope bayi
 Plester ½ atau ¾ inci
 Semprit untuk 1,3,5,10,20,50 ml
 Jarum berukuran 18,21,25
 Kapas alcohol
 Baki untuk keteterisasi arteri umbilikalis
 Kateter umbilkus berukuran 3,5f; 5f
 Three way stopcocks
 Sonde lambung berukuran 5f 
Paling sedikit 1 orang siap dikamar bersalin yang terampil dalam melakukan resusitasi bayi baru lahir da 2 orang lainnya untuk membantu dalam keadaan resusitasi darurat.
Bagaimana prosedur atau pelaksanaan resusitasi bayi?
1. Pindahkan bayi ke area resusitasi. Pada saat yang bersamaan:
- Kirimkan panggilan gawat darurat ke personil yang cepat
- Hidupkan jam dan catat waktu
- Nyalakan pemanas dan lampu
- Keringkan badan bayi secara menyeluruh, dang anti handuk yang basah, bungkus bayi dengan handuk bersih dan hangat dengan dada terbuka.
2. Atur posisi kepala bayi dengan posisi “mengendus”, tidak terlalu menengadah dan terlalu menunduk karena dapat menutupi jalan nafas. Dengan menggunakan kateter ukuran 8FG, lakukan pengisapan pada rongga mulut dengan hati-hati, jangan samapai menyentuh bagian belakang tenggorokan
3. Sekarang, dengan jalan nafas yang sudah paten, terbuka dan bersih, kaji frekuensi jantung, pernafasan dan warna kulit bayi:
 Bila bayi tampak merah mudah, dengan denyut jantung lebih dari 100/menit (dpm) dan bayi bernafas secara spontan: hangatkan bayi dan kembalikan pada orang tuanya
 Bila bayi bernafas tidak teratur (dangkal atau lambat) dengan sedikit sianosis, tetapi denyut jantung lebih dari 100x/menit:
- Berikan oksigen 5 liter/mnit dengan selang atau corong (tangan dapat di tangkupkan untuk membentuk corong)
Respons terhadap cara sederhana ini harus sudah terluhat dalam 30 detik. Bila sianosis hilang serta pernafasan dalam jumlah dan pola yang normal, bayi dikembalikan ke orang tuanya
 Bila tidak ada respon terhadap tindakan yang dijelaskan dalam pada no. 3.2 diatas, missal nafas terengah-engah, apnea, frekuensi jantung < 100 dpm, atau bayi tampak pucat:
a. Pastikan kepatenan jalan nafas
b. Lakukan inflasi paru dengan BVM. Ukuran masker yaqng benar harus digunakan agar benar-benar menutup mulut dan hidung bayi, tidak melampaui dagu atau lekukan mata. Ujung jari digunakan untuk menopang rahang dan menutup masker (memegang bagian bawah dagu juga akan menutup jalan nafas).
kantong (dengan katup pengaman yang pada awalnya di set pada 30 H2O) ditekan, 1 fentilasi berlangsung sekitar 1 – 2 detik dada harus naik dan turun secara perlahan setiap terjadi fentilasi,; keepatannya harus 30 – 40x nafas/menit (RCPCH,RCOG,1997). Bila dada tidak terlihat naik, bidan harus melakukan pengkajian terhadap kepatenan jalan nafas bebas dan penggunaan masker.
c. Setalah fentilasi selama 15 – 30 detik, kaji frekuensi jantung dengan merabanya dibagia apeks jantung atau di bagian bawah tali pusat. Hitung selama 6 deti kemudian kalikan 10 untuk mengitung banyaknya denyut dalam 1 menit.
d. Teruskan BVM sampai terjadi pernafasan spontan dan bila frekuensi jantung lebih dari 100 dpm. Bila frekuensi jantung antara 100 dan 60 dpm, lanjutkan fentilasi efektif dan kaji ulan setelah 30 detik.
2. Bila frekuensi jantung kurang dari 60 dpm, lakukan kompresi jantung: garis imajinasi di buat diantara putting susu; jari telunjuk dan jari tengah diletakkkan di tengah-tengah sternum tepat dinawah garis, kemudian dada ditekan sampai kedalaman sepertriga dada (1 – 2 cm). melanjutkan fentilasi yang efektif pada paru dan bahwa kompresi jantung dapat disinkronkan dengan fentilasi merupakan hal yang sangat penting. Kecepatan sinkronisasi adalah satu femntilasi diikuti dengan 3 kompresif (1:3). Selama 6 detik harus dilakukan sebanyak 3 siklus fentilasi kompres. Secara ideal diperlukan 2 orang untuk melakukan resusitasi ini, 1 orang menghitung dengan keras, sehingga konsentrasi dapat dipertahankan. (terdapat standar resusitasi 1:5 untuk semua kelompok umur, dengan demikian hal ini boleh dilakukan pada bayi.
3. Dengan kompresi jantung, frekuen jantung sering meningkat dengan cepat sampai lebih dari 80 dpm. Bila dalam waktu 30 detik tidak berhasil, dokter anak akan mempertimbangkan pemberian obat dan memindahkan bayi ke unit perawatan yang lebih kompleks. Meskipun demikian, penyebab paling banyak terjadinya penurunan frekuensi jantung adalah fentilasi paru yang tidak efektif.
DAFTAR PUSTAKA
 Johnson, Ruth dan Wendy Taylor. 2004. Praktek Kebidanan . Jakarta : EGC.
 Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiohardjo.
 Prawirohardjo, Sarwono.2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
 Ramali, Ahmad, 2000, Kamus Kedokteran Arti dan Keterangan Istilah, Cet.24, Jakarta; Djambatan

>>

Asfiksia Neonatorum


BATASAN
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur  pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (Pa CO2 meningkat) dan asidosis.

PATOFISIOLOGI
Penyebab asfiksia dapat berasal dari faktor ibu, janin dan plasenta. Adanya hipoksia dan iskemia jaringan menyebabkan perubahan fungsional dan biokimia pada janin. Faktor ini yang berperan pada kejadian asfiksia.

GEJALA KLINIK
Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.

DIAGNOSIS
Anamnesis : Gangguan/kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas/menangis.
Pemeriksaan fisik :
          Nilai Apgar
Klinis
0
1
2
Detak jantung
Tidak ada
< 100 x/menit
>100x/menit
Pernafasan
Tidak ada
Tak teratur
Tangis kuat
Refleks saat jalan nafas dibersihkan
Tidak ada
Menyeringai
Batuk/bersin
Tonus otot
Lunglai
Fleksi ekstrimitas (lemah)
Fleksi kuat gerak aktif
Warna kulit
Biru pucat
Tubuh merah ekstrimitas biru
Merah seluruh tubuh
         
   Nilai 0-3   : Asfiksia berat
               Nilai 4-6   : Asfiksia sedang
               Nilai 7-10 : Normal
Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit  masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan  menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian skor Apgar)
Pemeriksaan penunjang :
-         Foto polos dada
-         USG kepala
-         Laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit
Penyulit
Meliputi berbagai organ yaitu :
-         Otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis
-         Jantung dan paru : hipertensi pulmonal persisten pada neonatus, perdarahan paru, edema paru
-         Gastrointestinal : enterokolitis  nekrotikans
-         Ginjal : tubular nekrosis akut, SIADH
-         Hematologi : DIC

PENATALAKSANAAN 
Resusitasi
·        Tahapan resusitasi tidak melihat nilai apgar (lihat bagan)
·        Terapi medikamentosa :
Epinefrin :
Indikasi :
-           Denyut jantung bayi < 60 x/m setelah paling tidak 30 detik dilakukan ventilasi adekuat dan pemijatan dada.
-           Asistolik.
Dosis :
-           0,1-0,3 ml/kg BB dalam larutan 1 : 10.000   (0,01 mg-0,03 mg/kg BB) Cara : i.v atau endotrakeal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu. 

Volume ekspander :
Indikasi :
-            Bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami hipovolemia dan tidak ada respon dengan resusitasi.
-            Hipovolemia kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ditandai adanya pucat, perfusi buruk, nadi kecil/lemah, dan pada resusitasi tidak memberikan respon yang adekuat.
Jenis cairan :
-            Larutan kristaloid yang isotonis (NaCl 0,9%, Ringer Laktat)
-            Transfusi darah golongan O negatif jika diduga kehilangan darah banyak.

Dosis :
-           Dosis awal 10 ml/kg BB i.v pelan selama 5-10 menit. Dapat diulang sampai  menunjukkan respon klinis.

Bikarbonat :
Indikasi :
-           Asidosis metabolik, bayi-bayi baru lahir yang mendapatkan resusitasi. Diberikan bila ventilasi dan sirkulasi sudah baik.
-           Penggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia harus disertai dengan pemeriksaan analisa gas darah dan kimiawi.
Dosis :  1-2 mEq/kg BB  atau 2 ml/Kg BB (4,2%) atau 1 ml/kg bb (8,4%)
Cara :
-           Diencerkan dengan aquabides atau dekstrose 5% sama banyak diberikan secara intravena dengan kecepatan minimal 2 menit.
Efek samping :
-           Pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan CO2 dari bikarbonat merusak fungsi miokardium dan otak.

Nalokson :
-           Nalokson hidrochlorida adalah antagonis narkotik yang tidak menyebabkan depresi pernafasan. Sebelum diberikan nalakson ventilasi harus adekuat dan stabil.
Indikasi :
-           Depresi pernafasan pada bayi baru lahir yang ibunya menggunakan narkotik 4 jam sebelum persalinan.
-           Jangan diberikan pada bayi baru lahir yang ibunya baru dicurigai sebagai pemakai obat narkotika sebab akan menyebabkan tanda with drawltiba-tiba pada sebagian bayi.
Dosis :   0,1 mg/kg BB (0,4 mg/ml atau 1 mg/ml)
Cara :  Intravena,  endotrakeal atau bila perpusi baik  diberikan i.m atau s.c              

Suportif
·        Jaga kehangatan.
·        Jaga saluran napas agar tetap bersih dan terbuka.
·        Koreksi gangguan metabolik (cairan, glukosa darah dan elektrolit)

Bagan Resusistasi neonatus













Uji kembali  efektifitas :
- Ventilasi
- Kompresi dada
- Intubasi Endotrakeal
-  Pemberian epinefrin
Pertimbangkan kemungkinan :
- Hipovolemia
- Asidosis metabolik berat







Resusitasi dinilai tidak berhasil jika :
apnea dan denyut jantung 0 setelah dilakukan resusitasi secara efektif selama 15  menit.









DAFTAR PUSTAKA
1.        Kattwinkel J, Short J, Niermeyer S, Denson SE, Zaichkin J, Simon W. Neonatal resuscitation textbook; edisi ke-4. AAP & AHA, 2000; 1-1 – 2-25.
2.        Khosim S, Indarso F, Irawan G, Hendrarto TW. Buku acuan pelatihan pelayanan obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta : Depkes RI, 2006; 69-79.   
3.        Ringer SA. Resuscitation in the delivery room.  Dalam: Cloherty JP, Stark AR, eds. Manual of neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, 2004;     53-71.
4.        Aurora S, Snyder EY. Perinatal asphyxia. Dalam : Cloherty JP, Stark AR, eds. Manual of neonatal care; edisi ke-5. Boston : Lippincott Williams & Wilkins, 2004; 536-54.
5.        Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Neonatology, management, procedures, on call problems disease and drugs; edisi ke-5. New York : Lange Books/Mc Graw-Hill, 2004; 12-20.
6.        Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Neonatology, management, procedures, on call problems disease and drugs; edisi ke-5. New York : Lange Books/Mc Graw-Hill, 2004; 512-21.
7.        Rennie MJ, Roberton NRC. A manual of neonatal intensive care; edisi ke-4. London : Arnold, 2002; 62-88.

>>

PENGGUNAAN EPINEFRIN UNTUK RESUSITASI BAYI BARU LAHIR DENGAN KEGAGALAN DAN BRADIKARDI TERHADAP MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Ketika bayi lahir, penilaian pertama ditujukan pada empat poin, yaitu kematangan (dilihat dari usia gestasi), cairan ketuban (apakah bercampur mekonium atau tidak), pernafasan (tangis bayi), dan aktivitas tonus otot. Jika hasil dari keseluruhan penilaian menyatakan bahwa bayi dalam keadaan sehat (lahir cukup bulan, air ketuban tanpa mekonium, lahir menangis dan tonus otot aktif), maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh provider layanan kesehatan yang bersangkutan adalah memberikan perwatan rutin kepada bayi tersebut. Perawatan rutin meliputi menjaga kehangatan (suhu) tubuh bayi, mengeringkan seluruh permukaan tubuh bayi kecuali telapak tangan, membungkus bayi dengan kain dan membersihkan jalan napas dengan kateter balon (jika perlu saja, bukan merupakan langkah wajib) kemudian melanjutkan dengan melakukan inisiasi menyusui dini. Semua tindakan pada perawatan rutin ini dilakukan di atas perut ibu.
Jika hasil dari keempat penilaian awal bayi baru lahir tersebut terdapat hasil yang tidak baik (bayi tidak menangis, misalnya) maka langkah yang seharusnya dilakukan oleh provider layanan kesehatan adalah melakukan langkah awal resusitasi yang meliputi reposisi bayi (dengan posisi bahu lebih tinggi 1-3 cm dari kepala dan anggota tubuh lainnya), membersihkan jalan napas dan kemudian dilanjutkan dengan menilai denyut jantungnya. Jika hasil penilaian denyut jantung menunjukkan denyut kurang dari 100 kali per menit maka bayi dapat diberikan langkah awal resusitasi berupa ventilasi tekanan positif. Kebutuhan oksigen untuk ventilasi tekanan positif (VTP) adalah 30 cm H2O atau lebih untuk napas pertama, 15-20 cm H2O untuk napas selajutnya dan 20-40 cm H2O untuk bayi dengan penyakit paru-paru yang mengakibatkan turunnya compliance (Perinasia, 2006). Ventilasi tekanan positif ini dilakukan selama 30 detik (sekitar 20-30 kali pompa) sambil melihat perubahan kondisi bayi. Setelah itu dapat dilakukan evaluasi dengan menilai nafas bayi, warna kulit, aktivitas tonus otot, dan denyut jantung.
Dari hasil penilaian jika ditemukan denyut jantung bayi setelah diberikan ventilasi tekanan positif justru kurang dari 60 kali per menit, maka langkah resusitasi selanjutnya adalah dengan memberikan pijat dada (chest compression) dengan aturan 3 kompresi dan 1 ventilasi selama 15 siklus. Jika hasil evaluasi berikutnya masih menyatakan bahwa denyut jantung bayi masih kurang dari 60 kali per menit maka dapat dipertimbangkan penggunaan sejenis obat vasopresor seperti adrenalin, epinefrin, nor epinefrin, dan lain sebagainya. Adrenalin dapat digunakan pada dosis 0,1-0,3 ml/kgBB secara intravena. Penggunaan epinefrin juga direkomendasikan jika setelah mendapatkan ventilasi tekanan positif dan kompresi dada selama 30 detik sedangkan denyut jantung bayi masih kurang dari 60 kali per menit. Dosis dari penggunaan epinefrin dalam resusitasi bayi baru lahir sendiri adalah 0,1-0,3 ml/kgBB dengan pengenceran 1:10000 yang dapat diberikan melalui pembuluh vena (intravena) ataupun secara endotrakeal.
Dari beberapa bahan bacaan, epinefrin merupakan stimulant (perangsang kerja) jantung dan pembuluh darah. Meskipun penggunaan epinefrin untuk resusitasi bayi baru lahir sudah dibenarkan secara formal, namun hal tersebut belum mempunyai bukti yang telah diteliti dengan cermat. Sebagian besar penggunaan epinefrin pada resusitasi bayi baru lahir hanya didasarkan pada pembuktian efeknya terhadap binatang dan orang dewasa. Penelitian terhadap efek pada bayi sendiri belum dilakukan sehingga belum ada bukti pasti yang mendasari penggunaan epinefrin dalam resusitasi bayi baru lahir.
Beberapa ahli menyimpulkan bahwa epinefrin digunakan untuk menolong bayi yang lahir dengan kegawatan (hampir mati) dan mengalami bradikardi yang ekstrim atau jantung bayi yang tiba-tiba berhenti berdetak sesaat sebelum lahir. Ahli menarik kesimpulan tersebut dari hasil penelitian yang mengungkapkan fakta yang baik hasilnya pada hewan (anjing) dan pada orang dewasa. Sehingga masih diperlukan lagi untuk diadakan penelitian langsung pada populasi bayi baru lahir untuk mengatahui secara pasti efek penggunaan epinefrin terhadap derajat mortalitas dan morbiditas.
Penggunaan epinefrin dalam resusitasi bayi baru lahir dan pengaruhnya terhadap mortalitas dan morbiditas dapat ditinjau dari beberapa segi, antara lain dari cara / rute pamberian (intravena atau endotrakeal), dosis pemberian (dosis standar atau dosis tinggi) dan usia kematangan bayi (preterm atau aterm). International Guidelines 2000 Conference on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiac Care (AAP 2000) juga masih menyanksikan penggunaan epinefrin pada resusitasi bayi baru lahir. Pernyataan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar data pengetahuan dan sumber rekomendasi epinefrin diperoleh dari hasil penelitian terhadap binatang dan orang dewasa, bukan pada bayi baru lahir. Beberapa fakta menyatakan bahwa banyak kemungkinan terjadi efek samping dari penggunaan epinefrin pada resusitasi bayi baru lahir, yang meliputi kelainan organ mayor seperti kegagalan ginjal, nekrosis enterokolitis, perdarahan intraventrikuler dan infark.
Pada hasil penelitian terhadap binatang, diketahui bahwa epinefrin mempunyai efek beta-1 yang merangsang jantung dan efek alfa yang meningkatkan resistensi organ noncerebral. Dari perpaduan kedua efek tersebut, maka setelah diberikan epinefrin diharapkan dapat meningkatkan aliran darah menuju otak dan jantung (Berkowitz, 1991). Namun demikian, efek beta-1 juga mempunyai kelemahan, yaitu dapat menghambat pemulihan keadaan pasca resusitasi oleh karena kenaikan kebutuhan oksigen di jantung.
Pada rekomendasi pengetahuan menyebutkan bahwa dosis pemberian epinefrin adalah 0,1-0,3 ml.kgBB dengan pengenceran 1:10000, dan dapat diberikan baik secara intravena maupun endotrakeal yang diulang pemberiannya tiap tiga sampai lima menit sesuai indikasi. Dosis yang lebih tinggi telah diujicobakan penggunaannya pada anak-anak (Goetting, 1991) dan orang dewasa (Paradis, 1991) namun belum ada uji coba yang dilakukan pada kelompok bayi baru lahir. Pada penelitian secara acak menyebutkan bahwa dosis epinefrin yang lebih tinggi (melebihi dosis standar) justru tidak meningkatkan derajat keselamatan dan hasil neurologi. Lebih jauh lagi, dosis yang lebih tinggi akan mengakibatkan takikardi, hipertensi dan kematian mendadak pasca resusitasi.
Jika epinefrin diberikan secara endotrakeal, level plasma darah yang diharapkan dapat tercapai di samping efek penurunan aliran darah menuju paru-paru. Ditinjau dari kematangan (usia kehamilan) pemberian epinefrin akan mengakibatkan banyak risiko tertentu yang sampai sekarang belum bias untuk dijelaskan. Hasilnya menyebutkan bahwa bayi preterm (belum mengalami pematangan organ) akan lebih mudah terserang fluktuasi hemodinamik dengan penggunaan epinefrin yang berkelanjutan (Pasternak, 1983). Bayi preterm akan mudah mengalami gangguan perlukaan otak, seperti iskemik dan hipoksia.
Efek lain yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan epinefrin pada resusitasi bayi baru lahir antara lain :
  • Mortalitas sebelum usia 28 minggu, pada saat pemulihan, dan pada usia 1, 2, dan 5 tahun.
  • Kecacatan akan teerlihat pada usia 12, 24 bulan dan saat usia 5 tahun. Kecacatan yang terjadi dapat berupa kebutaan, ketulian, cerebral palsy, dan keterlambatan pertumbuhan kognitif.
  • Kematian atau kecacatan pada usia 12 bulan, 15 bulan dan 5 tahun.
Sedangkan untuk efek pemberian epiinefrin pada bayi baru lahir selai efek tersebut di atas dapat meliputi :
  • Perdarahan intraventrikuler
  • IVH derajat III dan IV
  • Leukomalacia
  • Keterlambatan kognitif
  • Cerebral palsy (pada usia 12 bulan, 24 bulan, dan 5 tahun)
  • Kebutaan
  • Ketulian
  • Penggunaan suplemen oksigen tiap 28 hari
  • Penggunaan suplemen oksigen pada 36 minggu setelah usia post menstruasi
  • Penggunaan suplemen oksigen saat pemulihan di rumah.
  • Nekrosis enterokolitis
  • Penurunan kadar keratin
Dengan melakukan penelitian secara acak, penggunaan epinefrin pada resusitasi neonatal tidak ditemukan. Jangan dipastikan jika penggunaan epinefrin pada bayi baru lahir dengan gawat napas dan ekstrim bradikardi akan mengurangi derajat mortalitas dan morbiditas. Selain itu juga, berhubung penggunaan epinefrin yang sangat berisiko pada resusitasi bayi baru lahir, diharapkan ada penelitian menganai perbandingan epinefrin terhadap obat alternatif lain, seperti vaso pressor nor epinefrin yang secara teoritis akan dapat memberikan efek alfa lebih optimal dan efek beta tanpa efek bahaya potensial sel beta.
Dari hasil penelitian, dapat diketahui nilai potensi efek baik efek alfa maupun efek beta pada epinefrin dan norepinefrin. Hal tersebut dapat dilihat pada table di bawah ini :

Obat Aktivitas pada Reseptor
Alfa-1 Beta-1 Beta-2
Norepinefrin 3 + 2 + Tidak diketahui
Epinefrin 2/3 + 3 + 3 +
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa norepinefrin memiliki efek alfa-1 (3+) yang berfungsi meningkatkan resistensi organ non cerebral lebih besar daripada efek beta-1 (2+) yang menstimulasi / merangsang kerja jantung. Namun dalam hal ini yang perlu diingat adalah bahwa efek beta-1 juga mempunyai kelemahan yaitu menghambat pemulihan pasca resusitasi karena peningkatan kebutuhan oksigen di paru-paru, sehingga dalam hal ini norepinefrin mempunyai kekuatan yang lebih tinggi untuk efek alfa-1 daripada efek beta-1, meskipun efek beta-2 belum diketahui. Dari sini dapat disimpulkan bahwa norepinefrin tidak mempunyai efek negatif yang besar jika digunakan dalam resusitasi meskipun sejauh ini penelitian terhadap bayi baru lahir belum dilakukan secara spesifik.
Tabel di atas juga menunjukkan seberapa besar efek epinefrin jika digunakan sebagai vasopresor pada resusitasi. Dapat kita lihat nilai efek alfa-1, beta-1, dan beta-2 dari epinefrin. Efek alfa dan beta secara keseluruhan lebih tinggi efek beta-nya. Meskipun efek beta juga akan merangsang kerja jantung, namun ia nantinya justru akan menghambat pemulihan kondisi tubuh pasca resusitasi, dan dikhawatirkan karena efek beta lebih besar hampir dua kali dari efek alfa-nya, risiko kejadian dan efek negatif pasca resusitasi akan lebih potensial terjadi. Ditakutkan nantinya beberapa gangguan otak dan saraf akan banyak terjadi beberapa periode setelah dilakukannya resusitasi seperti yang telah diungkapkan di atas, karena pada dasarnya penghambatan pemulihan keadaan pasca resusitasi ini disebabkan karena kenaikan kebutuhan oksigen di jantung (melebihi kebutuhan normal, sehingga perlu suplemen oksigen dalam keseharian). Uraian di atas cukup memberikan literatur untuk membandingkan penggunaan epinefrin dalam resusitasi dan obat lain yang memungkinkan untuk digunakan dalam tindakan resusitasi bayi baru lahir. Karena pada dasarnya sampai sekarang belum ada penelitian yang dapat membuktikan obat apakah yang paling efektif untuk digunakan pada resusitasi bayi baru lahir.
Dalam hal ini mungkin boleh dicoba untuk menggunakan norepinefrin pada resusitasi bayi baru lahir karena efek negatifnya yang lebih rendah daripada efek positifnya, sehingga diharapkan kejadian dan efek samping yang timbul baik itu gangguan otak, saraf maupun organ lain dapat diminimalisasi. Alasan perekomendasian norepinefrin pada resusitasi bayi baru lahir dengan kegawatan dan bradikardi yang ekstrim dapat berupa :
  • Vasokonstriktor cukup kuat meningkatkan SVR (systemic vascular resistance)
  • Meningkatkan tekanan darah tanpa sedikit meningkatkan denyut nadi
  • Meningkatkan MAP: 65-75 mmHg sampai dengan final (85 mmHg)
  • Mempertahankan denyut jantung 97-101 kali/menit.
  • NE potensial terhadap α1 (alfa-1) reseptor agonist.
Karena selama ini belum ada satu pun penelitian yang dapat menjadi dasar pengetahuan penggunaan epinefrin pada resusitasi bayi baru lahir dengan kegawatan dan bradikardi yang ekstrim, maka disarankan untuk diadakan penelitian lebih lanjut mengenai obat alternatif lain yang lebih aman digunakan dan membawa efek negatif lebih sedikit dibandingkan epinefrin pada resusitasi bayi baru lahir. Terutama bagi bayi baru lahir yang belum mengalami pematangan organ tubuh (preterm) diperlukan pengawasan lebih lanjut mengenai penggunaan obat vasopresor dalam tindakan resusitasinya, mengingat bayi baru lahir yang preterm yang mempunyai potensi lebih tinggi untuk mengalami asfiksia dan memerlukan resusitasi daripada bayi yang sudah mengalami kematangan organ tubuh (aterm)

>>