Tampilkan postingan dengan label Sistem Reproduksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Reproduksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Teknik konseling


Konseling dan Persetujuan Tindakan Medik
Maksud dari konseling dan persetujuan tindakan medik adalah untuk mengenali kebutuhan klien, membantu klien membuat pilihan yang sesuai dan memahami tujuan dan risiko prosedur klinik terpilih.

Konseling
Konseling adalah proses pertukaran informasi dan interaksi positif antara klien-petugas untuk membantu klien mengenali kebutuhannya, memilih solusi terbaik dan membuat keputusan yang paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.
Tujuan konseling KB
Konseling KB bertujuan membantu klien dalam hal:
  • Menyampaikan informasi dari pilihan pola reproduksi.
  • Memilih metode KB yang diyakini.
  • Menggunakan metode KB yang dipilih secara aman dan efektif.
  • Memulai dan melanjutkan KB.
  • Mempelajari tujuan, ketidakjelasan informasi tentang metode KB yang tersedia.

Prinsip Konseling KB
Prinsip konseling KB meliputi: percaya diri / confidentiality; Tidak memaksa / voluntary choice; Informed consent; Hak klien / clien’t rights dan Kewenangan / empowerment.

Keuntungan Konseling KB
Konseling KB yang diberikan pada klien memberikan keuntungan kepada pelaksana kesehatan maupun penerima layanan KB. Adapun keuntungannya adalah:
  • Klien dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhannya.
  • Puas terhadap pilihannya dan mengurangi keluhan atau penyesalan.
  • Cara dan lama penggunaan yang sesuai serta efektif.
  • Membangun rasa saling percaya.
  • Mengormati hak klien dan petugas.
  • Menambah dukungan terhadap pelayanan KB.
  • Menghilangkan rumor dan konsep yang salah.

Hak Pasien
Pasien sebagai calon maupun akseptor KB mempunyai hak sebagai berikut: a) Terjaga harga diri dan martabatnya. b) Dilayani secara pribadi (privasi) dan terpeliharanya kerahasiaan. c) Memperoleh informasi tentang kondisi dan tindakan yang akan dilaksanakan. d) Mendapat kenyamanan dan pelayanan terbaik. e) Menerima atau menolak pelayanan atau tindakan yang akan dilakukan. f) Kebebasan dalam memilih metode yang akan digunakan.

Konseling KB dan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal dalam pelayanan kesehatan menggunakan :
  1. Motivasi
  2. Edukasi / pendidikan
  3. Konseling
Motivasi
Motivasi pada pasien KB meliputi: Berfokus untuk mewujudkan permintaan, bukan pada kebutuhan individu klien; Menggunakan komunikasi satu arah; Menggunakan komunikasi individu, kelompok atau massa.
Pendidikan KB
Pelayanan KB yang diberikan pada pasien mengandung unsur pendidikan sebagai berikut: Menyediakan seluruh informasi metode yang tersedia; Menyediakan informasi terkini dan isu; Menggunakan komunikasi satu arah atau dua arah; Dapat melalui komunikasi individu, kelompok atau massa; Menghilangkan rumor dan konsep yang salah.
Konseling KB
Konseling KB antara lain: Mendorong klien untuk mengajukan pertanyaan; Menjadi pendengar aktif; Menjamin klien penuh informasi; Membantu klien membuat pilihan sendiri.

Peran Konselor KB
Proses konseling dalam praktik pelayanan kebidanan terutama pada pelayanan keluarga berencana, tidak terlepas dari peran konselor. Tugas seorang konselor adalah sebagai berikut:
  • Sahabat, pembimbing dan memberdayakan klien untuk membuat pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
  • Memberi informasi yang obyektif, lengkap, jujur dan akurat tentang berbagai metode kontrasepsi yang tersedia.
  • Membangun rasa saling percaya, termasuk dalam proses pembuatan Persetujuan Tindakan Medik.

Ciri Konselor Efektif
  • Memperlakukan klien dengan baik.
  • Berinteraksi positif dalam posisi seimbang.
  • Memberikan informasi obyektif, mudah dimengerti dan diingat serta tidak berlebihan.
  • Mampu menjelaskan berbagai mekanisme dan ketersediaan metode konstrasepsi.
  • Membantu klien mengenali kebutuhannya dan membuat pilihan yang sesuai dengan kondisinya.

Jenis Konseling
Jenis konseling terbagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Konseling umum
  2. Konseling spesifik
  3. Konseling pra dan pasca tindakan
Konseling umum dapat dilakukan oleh petugas lapangan keluarga berencana atau PLKB. Konseling umum meliputi penjelasan umum dari berbagai metode kontrasepsi untuk mengenalkan kaitan antara kontrasepsi, tujuan dan fungsi reproduksi keluarga.
Konseling Spesifik
Konseling spesifik dapat dilakukan oleh dokter / bidan / konselor. Konseling spesifik berisi penjelasan spesifik tentang metode yang diinginkan, alternatif, keuntungan-keterbatasan, akses, dan fasilitas layanan.
Konseling Pra dan Pasca Tindakan
Konseling pra dan pasca tindakan dapat dilakukan oleh operator / konselor / dokter / bidan. Konseling ini meliputi penjelasan spesifik tentang prosedur yang akan dilaksanakan (pra, selama dan pasca) serta penjelasan lisan / instruksi tertulis asuhan mandiri.
Teknik Konseling Gallen dan Leitenmaier, 1987
Teknik konseling menurut Gallen dan Leitenmaier (1987), lebih dikenal dengan GATHER yaitu:
G : Greet respectully
A : Ask, Assess needs
T : Tell information
H : Help choose
E : Explain dan demonstrate
R : Refer or Return visit
Dalam bahasa Indonesia, juga lebih dikenal dengan SATU TUJU yang meliputi:
Sa : Salam
T : Tanya
U : Uraikan
Tu : Bantu
J : Jelaskan
U : Kunjungan ulang atau rujuk

Informed Choice
Informed choice merupakan bentuk persetujuan pilihan tentang: Metode kontrasepsi yang dipilih oleh klien setelah memahami kebutuhan reproduksi yang paling sesuai dengan dirinya / keluarganya; Pilihan tersebut merupakan hasil bimbingan dan pemberian informasi yang obyektif, akurat dan mudah dimengerti oleh klien; Pilihan yang diambil merupakan yang terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia.

Informed Consent
Informed consent adalah :
  • Bukti tertulis tentang persetujuan terhadap prosedur klinik suatu metode kontrasepsi yang akan dilakukan pada klien.
  • Harus ditandatangani oleh klien sendiri atau walinya apabila akibat kondisi tertentu klien tidak dapat melakukan hal tersebut.
  • Persetujuan diminta apabila prosedur klinik mengandung risiko terhadap keselamatan klien (baik yang terduga atau tak terduga sebelumnya).
Persetujuan tindakan medik (Informed Consent) berisi tentang kebutuhan reproduksi klien, informed choice, dan prosedur klinik yang akan dilakukan; ada penjelasan tentang risiko dalam melakukan prosedur klinik tersebut; standar prosedur yang akan dilakukan dan upaya untuk menghindarkan risiko; klien menyatakan mengerti tentang semua informasi tersebut diatas dan secara sadar memberikan persetujuannya.
Informed consent juga dilakukan pada pasangannya dengan alasan sebagai berikut :
  • Aspek hukum, hanya saksi yang mengetahui bahwa pasangannya secara sadar telah memberikan persetujuan terhadap tindakan medik.
  • Suami tidak dapat menggantikan posisi istrinya untuk memberikan persetujuan (atau sebaliknya) kecuali pada kondisi khusus / tertentu.
  • Secara kultural (Indonesia) suami selalu menjadi penentu dalam memberikan persetujuan tetapi secara hukum, hal tersebut hanya merupakan persetujuan terhadap konsekuensi biaya dan pemahaman risiko (yang telah dijelaskan sebelumnya) yang mungkin timbul dari prosedur klinik yang akan dilakukan.
 >>

Teknik tubektomi


Tubektomi ialah tindakan yang dilakukan pada kedua tuba Falloppii wanita. Metoda dengan cara operasi tersebut di atas telah dikenal sejak zaman dahulu. Hippocrates menyebut bahwa tindakan itu dilakukan terhadap orang dengan penyakit jiwa. Sekarang tindakan tubektomi dilakukan secara sukarela dalam rangka keluarga berencana.

TUBEKTOMI
Dahulu tubektomi dilakukan dengan jalan laparotomi atau pembedahan vaginal. Sekarang, dengan alas-alas dan teknik baru, tindakan ini diselenggara¬kan secara lebih ringan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.
Dalam tahun-tahun terakhir ini tubektomi telah merupakan bagian yang penting dalam program keluarga berencana di banyak negara di duma. Di Indonesia sejak tahun 1974 telah berdiri perkumpulan yang sekarang bernama Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI), yang membina perkem¬bangan metode dengan operasi (M.0) atau kontrasepsi mantap secara sukarela, tetapi secara resmi tubektomi tidak termasuk ke dalam program nasional keluarga berencana di Indonesia.
Keuntungan tubektomi ialah :
1) motivasi hanya dilakukan satu kali saja, sehingga tidak diperlukan motivasi yang berulang-ulang
2) efektivitas hampir 100%
3) tidak mempengaruhi libido seksualis
4) kegagalan dari pihak pasien (patient's failure) tidak ada.
Sehubungan dengan waktu melakukan metode dengan operasi, dapat dibedakan antara m.o. postpartum dan m.o. dalam interval. Tubektomi post¬partum dilakukan satu hari setelah partus.
Tindakan yang dilakukan sebagai tindakan pendahuluan untuk mencapai tuba Falloppii terdiri atas pembedahan transabdominal seperti laparotomi, mini laparotomi, laparoskopi dan pembedahan transvaginal, seperti kolpotomi posterior, kuldoskopi, serta pembedahan transservikal (trans-uterin), seperti penutupan lumen tuba histeroskopik.
Untuk menutup lumen dalam tuba, dapat dilakukan pemotongan tuba dengan berbagai macam tindakan operatif, seperti cara Pomeroy, cara Irving, cara Uchida, cara Kroener, cara Aldridge. Pada cara Madlener tuba tidak dipotong. Di samping cara-cara tersebut di atas, penutupan tuba dapat pula dilakukan dengan jalan kauterisasi tuba, penutupan tuba dengan clips, Falope ring, Yoon ring, dan lain-lain.

Indikasi metode dengan operasi (M.0)
Metode dengan operasi dewasa ini dijalankan atas dasar sukarela dalam rangka keluarga berencana. Kerugiannya ialah bahwa tindakan ini dapat dianggap tidak reversibel, walaupun sekarang ada kemungkinan untuk membuka tuba kembali paas mereka yang akhirnya masih menginginkan anak lagi dengan operasi rekanalisasi. Oleh karena itu, penutupan tuba hanya dapat dikerjakan pada mereka yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Seminar Kuldoskopi Indonesia pertama di Jakarta (18-19 Desember 1972) mengambil kesimpulan, sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita yang memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup
2. Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup
3. Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup,

Pada konperensi khusus Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia di Medan (3-5 Juni 1976) dianjurkan pada umur antara 25-40 tahun, dengan jumlah anak sebagai berikut:
1. Umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih.
2. Umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih.
3. Umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih.
Umur suami hendaknya sekurang-kurangnya 30 tahun, kecuali apabila jumlah anak telah melebihi jumlah yang diinginkan oleh pasangan itu. Di bagian Obstetri/Ginekologi Fakultas Kedokteran USU/RSUPP Medan, berhubung dengan tingginya angka kematian perinatal dan bayi, serta pentingnya anak lelaki bagi beberapa suku di Sumatera Utara digunakan rumus 120 yang disesuaikan dengan persyaratan sterilisasi sukarela. Dengan ini, syarat untuk sterilisasi ialah umur wanita x jumlah anak hidup dengan paling sedikit 1 anak laki-laki, harus tidak kurang dari 120, dengan umur wanita terendah 25 tahun. Rumus 120 tersebut, dewasa ini tidak begitu dipegang teguh lagi sehubungan dengan beratnya tekanan pertumbuhan penduduk.

Tindakan pendahuluan guna penutupan tuba
Laparotomi
Tindakan ini tidak dilakukan lagi sebagai tindakan khusus guna tubektomi. Di sini penutupan tuba dijalankan sebagai tindakan tambahan apabila wanita yang bersangkutan perlu dibedah untuk keperluan lain. Misalnya, pada wanita yang perlu dilakukan seksio sesarea, kadang-kadang tuba kanan dan kiri ditutup apabila tidak diinginkan bahwa ia hamil lagi.
Laparotomi postpartum
Laparotomi ini dilakukan satu hari postpartum. Keuntungannya ialah bahwa waktu perawatan nifas sekaligus dapat digunakan untuk perawatan pascaopera¬si, dan oleh karena uterus masih besar, cukup dilakukan sayatan kecil dekat fundus uteri untuk mencapai tuba kanan dan kiri. Sayatan dilakukan dengan sayatan semi lunar (bulan sabit) di garis tengah distal dari pusat dengan panjang kurang-lebih 3 cm dan penutupan tuba biasanya diselenggarakan dengan cara Pomeroy.
Minilaporotomi
Laparotomi mini dilakukan dalam mass interval. Sayatan dibuat di garis tengah di atas simfisis sepanjang 3 cm sampai menembus peritoneum. Untuk mencapai tuba dimasukkan alas khusus (elevator uterus) ke dalam kavum uteri. Dengan bantuan alas ini uterus bilamana dalam retrofleksi dijadikan letak antefleksi dahulu dan kemudian didorong ke arah lubang sayatan. Kemudian, dilakukan penutupan tuba dengan salah satu cara.
Laparoskopi
Mula-mula dipasang cunam serviks pada bibir depan porsio uteri, dengan maksud supaya kelak dapat menggerakkan uterus jika hal itu diperlukan pada waktu laparoskopi. Setelah dilakukan persiapan seperlunya, dibuat sayatan kulit di bawah pusat sepanjang lebih 1 cm. Kemudian, di tempat luka tersebut dilakukan pungsi sampai rongga peritoneum dengan jarum khusus (jarum Veres), dan melalui jarum itu dibuat pneumoperitoneum dengan memasukkan CO2 sebanyak 1 sampai 3 liter dengan kecepatan kira-kira 1 liter permenit. Setelah pneumoperitoneum dirasa cukup, jarum Veres dikeluarkan dan sebagai gantinya dimasukkan troikar (dengan tabungnya). Sesudah itu, troikar diangkat dan dimasukkan laparoskopi melalui tabung. Untuk memudahkan penglihatan uterus dan adneks, penderita diletakkan dalam posisi Trendelenburg dan uterus digerakkan melalui cunam serviks pada porsio uteri. Kemudian, dengan cunam yang masuk dalam rongga peritoneum bersama-sama dengan laparoskop, tuba dijepit dan dilakukan penutupan tuba dengan kauterisasi, atau dengan memasang pada tuba cincin Yoon atau cincin Falope atau clip Hulka. Berhubung dengan kemungkinan komplikasi yang lebih besar pada kauterisasi, sekarang lebih banyak digunakan cara-cara yang lain.
Kuldoskopi
Wanita ditempatkan pada posisi menungging (posisi genupektoral) dan setelah spekulum dimasukkan dan bibir belakang serviks uteri dijepit dan uterus ditarik ke luar dan agak ke atas, tampak kavum Douglasi mekar di antara ligamentum sakro-Aterinum kanan dan kiri sebagai tanda bahwa tidak ada perlekatan. Dilakukan pungsi dengan jarum Touhy di belakang uterus, dan melalui jarum tersebut udara masuk dan usus-usus terdorong ke rongga perut. Setelah jarum diangkat, lubang diperbesar, sehingga dapat dimasukkan kuldoskop. Melalui kuldoskop dilakukan pengamatan adneksa dan dengan cunam khusus, tuba dijepit dan ditarik ke luar untuk dilakukan penutupannya dengan cara Pomeroy, cara Kroener, kauterisasi, atau pemasangan cincin Falope.


Cara penutupan tuba
Cara Madlener
Bagian tengah dari tuba diangkat dengan cunam Pean, sehingga terbentuk suatu lipatan terbuka. Kemudian, dasar dari lipatan tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat, dan selanjutnya dasar itu diikat dengan benang yang tidak dapat diserap. Pada cara ini tidak dilakukan pemotongan tuba. Sekarang cara Madlener tidak dilakukan lagi oleh karena angka kegagalannya relatif tinggi, yaitu 1% sampai 3%.
Cara Pomeroy
Cara Pomeroy banyak dilakukan. Cara ini dilakukan dengan mengangkat bagian tengah dari tuba sehingga membentuk suatu lipatan terbuka, kemudian dasarnya, diikat dengan benang yang dapat diserap, tuba di atas dasar itu dipotong. Setelah benang pengikat diserap, maka ujung-ujung tuba akhirnya terpisah satu sama lain. Angka kegagalan berkisar antara 0-0,4%.
Cara Irving
Pada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang dapat diserap, ujung
proksimal dari tuba ditanamkan ke dalam, miometrium, sedangkan ujung distal ditanamkan ke dalam ligamentum latum.
Cara Aldridge
Peritoneum dari ligamentum Tatum dibuka dan kemudian tuba bagian distal bersama-sama dengan fimbria ditanam ke dalam ligamentum latum.
Cara Uchida
Pada cara ini tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi kecil (minilaparotomi) di atas simfisis pubis. Kemudian di daerah ampulla tuba dilakukan suntikan dengan larutan adrenalin dalam air garam di bawah serosa tuba. Akibat suntikan ini, mesosalping di daerah tersebut mengembung. Lalu dibuat sayatan kecil di daerah yang kembung tersebut. Serosa dibebaskan dan tuba sepanjang kira-kira 4-5 cm; tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit, diikat, lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan sendirinya di bawah serosa, sedangkan Ujung tuba yang distal dibiarkan berada di luar serosa. Luka sayatan dijahit secara kantong tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0.
Cara Kromer
Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi. Suatu ikatan dengan benang sutera dibuat melalui bagian mesosalping di bawah fimbria. jahitan ini diikat dua kali, satu mengelilingi tuba dan yang lain mengelilingi tuba sebelah proksimal dari jahitan sebelumnya. Seluruh finbria dipotong. Setelah pasti tidak ada perdarahan, maka tuba dikembalikan ke dalam rongga perut.
Teknik ini banyak digunakan. Keuntungan cara ini antara lain ialah sangat kecilnya kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum rotundum. Angka kegagalan 0,19%.


>>

Cara-cara konseling tentang kontrasepsi

A. Definisi Konseling
Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut. (Saefudin, Abdul Bari : 2002).
Proses pemberian bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien.
Proses melalui satu orang membantu orang lain dengan komunikasi, dalam kondisi saling pengertian bertujuan untuk membangun hubungan, orang yang mendapat konseling dapat mengekspresikan pikiran& perasaannya dengan cara tertentu sesuai dengan situasi, melalui pengalaman baru, mamandang kesulitan objektif sehingga dapat menghadapi masalah dengan tidak terlalu cemas dan tegang.( SCA.C STEERING COOMUTE, 1996).
Jadi konseling kebidanan adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam dan usaha bersama antara konselor (bidan) dengan konseli (klien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku/ sikap dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan”.



B. Tujuan Konseling
Tujuan konseling adalah :
  1. Pemecahan masalah, meningkatkan efektifitasindividu dalam pengambilan keputusan secara tepat.
  2. Pemenuhan kebutuhan, menghilangkan perasaan yang menekan/ mengganggu.
  3. Perubahan sikap dan tingkah laku.

C. Langkah Konseling
Ada 3 langkah pokok konseling yang harus dilaksanakan yaitu : (a) Pendahuluan, menciptakan kontak mengumpulkan data klien untuk mencari tahu penyebabnya; (b) Bagian inti/ pokok , mencari jalan keluar dan menentukan jalan keluar yang harus dipilih; (c) Bagian akhir, penyimpulan dari seluruh aspek kegiatan dan merupakan tahap penutupan untuk pertemuan berikutnya.

D. Prinsip Dasar Konseling
Kemampuan menolong orang lain digambarkan dalam sejumlah keterampilan yang digunakan seseorang sesuai dengan profesinya yang meliputi (HOPSAN, 1978) : (1) Pengajaran; (2) nasehat dan bimbingan ; (3) pengambilan tindakan langsung; (4) pengelolaan; (5) konseling.

E. Fungsi Konseling Kebidanan
Fungsi konseling adalah :
  1. Pencegahan : mencegah timbulnya masalah kesehatan.
  2. Penyesuaian : membantu klien mengalami perubahan biologis, psikologis, kultural dan lingkungan .
  3. Perbaikan : perbaikan terjadi bila ada penyimpangan perilaku klien
  4. Pengembangan : meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan.



F. Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Konseling
Hal yang harus diperhatikan dalam konseling adalah :
  1. Iklim psikologis, suasana percakapan : Iklim psikologis, tindakan, perilaku, sikap dari orang lain yang mempunyai dampak terhadap diri kita. Contoh : bidan otoriter kepada klien -> feed back negatif.
  2. Sikap Konselor (Bidan) menurut “Rogers”, yaitu :
    a. Acceptance(Menerima) : Konselor menunjukkan sikap menerima, sehingga konseli merasa tidak ditolak, diacuhkan, didikte, tapi melainkan konseli merasa bahwa ia diterima sebagai dirinya sendiri. Terima klien dengan sikap terbuka dan apa adanya. Konselor memperhatikan tanpa pamrih, tanpa menguasai klien. Tulus dan ikhlas. Konselor harus menghargai konseli, apapun yang dikatakan konseli. Beri kesempatan pada klien untuk mengemukakan keluhan-keluhannya.
    b. Sikap tidak menilai
    c. Sikap percaya terhadap konseli
  3. Alam pikiran dari konseli ?dilihat dari dalam diri konseli sendiri
  4. Situasi konseling, persamaan persepsi sampai mendapat pengertian.

G. Teknik Konseling
Teknik konseling ada 3 yaitu :
  1. Pendekatan authoritatian atau directive, pusat dari keberhasilan konseling adalah dari konselor.
  2. Pendekatan non-directive atau conselei centred, konseli diberikan kesempatan untuk memimpin proses konseling dan memecahkan masalah sendiri.
  3. Pendekatan edetic, konselor menggunakan cara yang baik sesuai dengan masalah konseli.

H. Proses Konseling
Proses konseling terdiri dari 4 unsur kegiatan yaitu :
  1. Pembinaan hubungan baik (rapport) : Pembinaan hubungan baik dimulai sejak awal pertemuan dengan klien dan perlu dijaga seterusnya dengan :a. Memberi salam pada awal setiap pertemuan.b. Memperkenalkan diri
    c. Menciptakan suasana nyaman dan aman.
    d. Memberikan perhatian penuh pada klien (SOLER).S :Face your clients squarely (menghadap klien) & smile/ nod at clients (senyum/ mengganggukkan kepala).
    O :Open and Non Judgemental Facial Expression (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai).
    L : Lean Towards Client (tubuh condong kearah klien).
    E : Eye Contact in a culturally- Acceptable Manner (kontak mata/ tatap mata sesuia dengan cara yang diterima budaya setempat).
    R : Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat).
e. Bersabar
f. Tidak memotong pembicaraan klien
  1. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan perencanaanSetelah mendapatkan dan memberikan cukup informasi sesuai dengan masalah dan kondisi klien, konselor membantu klien memecahkan masalah yang dihadapi atau membuat perencanaan untuk mengatasi masalah. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah (1) fisik, (2) emosional, (3) rasional, (4) praktikal, (5) interpesonal, (6) struktural.
  2. Menindaklanjuti pertemuan : Menindaklanjuti pertemuan konseling dengan membuat rangkuman, merencanakan pertemuan selanjutnya/ merujuk klien.

I. Faktor Penghambat Konseling
Faktor penghambat dalam konseling antara lain :
  1. Faktor individualKeterikatan budaya merupakan faktor individual yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan dari : (a) faktor fisik atau kepekaan panca indera, usia dan seks; (b) sudut pandang terhadap nilai-nilai; (c) faktor sosial pada sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial; (d) bahasa.
  2. Faktor yang berkaitan dengan interaksi, (a) tujuan dan harapan terhadap komunikasi; (b) sikap terhadap interaksi; (c) pembawaan diri terhadap orang lain; (d) sejarah hubungan.
  3. Faktor situasional
  4. Kompetensi dalam melakukan percakapan : Komunikasi dikatakan efektif bila ada sikap perilaku kompeten dari kedua belah pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah : (a) kegagalan informasi penting; (b) perpindahan topik bicara; (c) tidak lancar; (d) salah pengertian.

J. Hasil Pelayanan Konseling Kebidanan
Harapan bidan setelah dilaksanakan konseling adalah kemandirian klien dalam :
  1. Peningkatan kemampuan klien dalam mengenali masalah, merumuskan pemecahan masalah, menilai hasil tindakan dengan tepat.
  2. Klien mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah kesehatan.
  3. Klien merasa percaya diri dalam menghadapi masalah.
  4. Munculnya kemandirian dalam pemecahan masalah kesehatan.

 >>

RESUSITASI BAYI

 RESUSITASI ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)
RESUSITASI adalah pernafasan dengan menerapkan masase jantung dan pernafasan buatan.(Kamus Kedokteran, Edisi 2000)
Kira-kira 10% bayi baru lahir memerlukan bantuan untuk memulai pernafasan saat lahir, dan sekitar 1 % saja yang memerlukan resusitasi lengkap mulai dari pembersihan jalan nafas hingga pemberian obat-obatan darurat.
Untuk amannya, setiap akan menolong bayi baru lahir ada 5 pertanyaan yang harus mampu dijawab oleh petugas kesehatan untuk menentukan apakah tindakan pemberian resusitasi untuk bayi baru lahir diperlukan .
PERHATIKAN KONDISI BAYI BARU LAHIR TERSEBUT DAN PASTIKAN JAWABAN DARI SALAH SATU DARI 5 PERTANYAAN TERSEBUT DIBAWAH INI ADALAH “TIDAK” SEBELUM MELAKUKAN RESUSITASI BAYI, ARTINYA RESUSITASI DIPERLUKAN ;
1) Apakah bersih dari mekonium ?
2) Apakah bernafas dan menangis dengan adekuat?
3) Apakah tonus otot baik?
4) Apakah warna kulit kemerahan ?
5) Apakah lahir dengan cukup bulan?
Apa tanda yang penting untuk melakukan Resusitasi :
1. Pernafasan
Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau bahwa pernafasan tidak adekuat.
 Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya pernafasan selama 1 menit. Nafas tersengal-sengal berarti nafas tidak efektif dan perlu tindakan, misalnya apneu. Jika pernafasan telah efektif yaitu pada bayi normal biasanya 30 – 50 x/menit dan menangis, kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
2. Denyut jantung – frekuensi
  Apabila penilaian denyut jantung menunjukkan bahwa denyut jantung bayi
tidak teratur.
 Frekuensi denyut jantung harus > 100 per menit. Cara yang termudah dan cepat adalah dengan menggunakan stetoskop atau meraba denyut tali pusat. Meraba arteria mempunyai keuntungan karena dapat memantau frekuensi denyut jantung secara terus menerus, dihitung selama 6 detik (hasilnya dikalikan 10 = frekuensi denyut jantung selama 1 menit)
Hasil penilaian ;
• Apabila frekuensi>100x / menit dan bayi bernafas spontan, dilanjutkan dengan menilai warna kulit.
• Apabila frekuensi < 100x / menit walaupun bayi bernafas spontan menjadi indikasi untuk dilakukan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
3. Warna Kulit
  Apabila penilaian warna kulit menunjukkan bahwa warna kulit bayi pucat
atau bisa sampai sianosis.
Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya kulit menjadi kemerahan. Jika masih ada sianosis central, oksigen tetap diberikan. Bila terdapat sianosis purifier, oksigen tidak perlu diberikan, disebabkan karena peredaran darah yang masih lamban, antara lain karena suhu ruang bersalin yang dingin.
Nilai APGAR tidak dipakai untuk menentukan kapan kita memulai resusitasi atau untuk membuat keputusan mengenai jalannya resusitasi.
Resusitasi dilakukan dengan tujuan :
1. Memberikan ventilasi yang adekuat
2. Membatasi kerusakan serebi
3. Pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak, jantung dan alat – alat vital lainnya
4. Untuk memulai atau mempertahankan kehidupan ekstra uteri
Siapa yang memerlukan resusitasi :
Resusitasi dapat diberikan pada bayi, anak maupun dewasa yang memerlukan pernafasan buatan. Henti jantung dan henti nafas bukanlah kejadian yang sering terjadi walupun di Rumah Sakit. Kematian mendadak ini biasanya sebagai akibat stroke, infark miokardial, kelebihan dosis obat dan trauma hebat dapa dicegah bila tindakan resusitasi dilakukan secara tepat.
Resusitasi pada bayi diperlukan bila bayi dalam kondisi sebagai berikut :
1. Okulasi jalan nafas, misal tersedak, masalah pemberian makanan atau karena ada lendir.
2. Abnormalitas konginital yang tidak terdeteksi.
3. Sisa pengaruh depresi pernafasan setelah berkurangnya efek naloxone
4. Infeksi  
Resusitasi bayi dilakukan pada bagian tubuh yang disesuaikan dengan masalah / kondisi bayi , antara lain :
1. Untuk persalinan dimana ketuban mengandung mekoneum
Bila terdapat mekoneum dalam ketuban, petugas yang menolong persalinan harus menghisap cairan dari mulut, pharing, dan hidung bayi sebelum bahu dilahirkan, agar bayi tidak mengalami aspirasi mekoneum.
2. Untuk persalinan dimana ketuban tidak mengandung mekoneum
Bila tidak ada mekoneum, lahirkan bayi kemudian hisap lender dari mulut bayi terlebih dahulu, selanjutnya penghisapan dilakukan melalui hidung kanan – kiri.
LANGKAH AWAL RESUSITASI BAYI
Perkiraan waktu LAHIR
• BERSIH DARI MEKONEUM ?
• BERNAFAS&MENANGISDG ADEKUAT ?
• TONUS OTOT BAIK ?
• WARNA KULIT KEMERAHAN ?
• BAYI LAHIR CUKUP BULAN ?
T I D A K
30 detik
• Berikan kehangatan
• Posisikan, bersihkan jalan nafas (bila perlu)
• Keringkan, rangsang, posisikan lagi
• Beri oksigen (bila perlu)
• Evaluasi pernafasan,
 frekuensi jantung, Bernafas
• warna kulit FJ > 100 & Kemerahan
Lakukan VTP Perawatan Lanjut
Langkah awal meliputi :
1. Penentuan apakah neonatus memerlukan resusitasi
2. Membuka jalan nafas dan mencegah hipotermi
3. Bagaimana jika ketuban mengandunga mekoneum
4. Memberikan oksigen aliran bebas
Langkah awal resusitasi :
1. Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas. Biarkan bayi telanjang agar panas dari alat pemancar dapat mencapai bayi dan untuk mendapat pandangan penuh pada bayi
2. Meletakkan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya.
Bayi diletakkan terlentang atau miring dengan kepala sedikit tengadah. Dengan demikian posisi faring, laring, trakea dalam satu garis lurus. Pada posisi ini jalan nafas terbuka dan mudah dilakukan ventilasi dengan balon sungkup.
3. Bersihkan jalan nafas
Untuk persalinan dimana ketuban mengandung mekoneum. : yaitu sebelum bahu dilahirkan, petugas yang menolong persalinan harus menghisap cairan dari mulut, pharing dan hidung agar bayi tidak mengalami aspirasi mekoneum.
Untuk persalinan dimana ketuban tidak mengandung mekoneum : Lahirkan bayi kemudian hisap lender dari mulut bayi terlebih dahulu, selanjutnya penghisapan dilakukan melalui hidung kiri kanan. Jangan menghisap terlalu dalam ( gunakan kekuatan penghisapan 100 mmHg) penghisapan terlalu dalam mengakibatkan bradichardi. Mulut dihisap terlebih dahulu sebelum hidung karena penghisapan hidung merangsang bayi bernafas dan akan terjadi aspirasi jika faring belum bersih.
4. Mengeringkan tubuh
Pengeringan membantu mengurangi hipotermi dan juga merupakan rangsangan agar bayi bernafas / menangis. Handuk yang digunakan untuk mengeringkan harus diganti dengan yang baru / masih kering dan hangat sebagai selimut.
5. Rangsang Taktil
 Setelah bayi dibebaskan / dibersihkan jalan nafasnya dan dikeringkan tetap aneu / tidak menangis, berikan rangsang taktil agar bernafas / menangis.
Cara rangsang yang aman :
• Menepuk atau menyentil telapak kaki
• Menggosok punggung, perut atau ekstremitas bayi
6. Pemberian Oksigen Aliran Bebas
  Jika bayi bernafas tapi penilaian warna kulit menunjukkan adanya sianosis sentral tetap berikanlah oksigen aliran bebas 100 % (minimal 5L / menit) sampai sianosis sentral hilang.
7. Berikan VTP (Ventilasi Tekanan Positif)
• VTP dilakukan dengan sungkup dan balon resusitasi atau dengan sungkup dan tabung
• Kecepatan ventilasi 40 – 60 x / menit
• Tekanan ventilasi untuk nafas pertama 30 – 40 cm H2O, setelah nafas pertama membutuhkan tekanan 15-20 cm H2O
• Suara nafas didengar dengan menggunakan stetoskop.
• Apabila dengan tahapan dia tas dada bayi masih tetap kurang berkembang, sebaiknya dilakukan intubasi endotrakheal (ET).
Persiapan Resusitasi Bayi dilakukan bila diketahui faktor pada ibu atau bayi , antara lain :
o Prematuritas
o Malpresentasi yang telah diketahui, missal presentasi sungsang
o Penyakit maternal, missal hipertensi, diabetes militus
o Riwayat kelainan obstetric atau neonatus sebelumnya
o Denyut jantung janin abnormal yang menandakan adanya distress janin
o Persalinan dengan alat atau dengan operasi, terutama yang menggunakan anestesi umum
o Kegawatan obstetric, missal prolaps tali pusat, perdarahan antepartum, distosia, eklampsi
o Persalinan cepat
o Pedasi berat pada ibu, missal karena over dosis obat
o Adanya mekonium segar dalam cairan amnion 
Resusitasi Bayi diberikan segera setelah bayi baru lahir dengan keadaan bayi yang ciri utamanya :
1. Bayi menderita apneu saat dilahirkan
2. Bayi dengan upaya pernafasan yang lemah dan tidak efektif 
Resusitasi dapat dilakukan dengan baik sekalipun dengan jumlah alat yang minimal, disegala tempat, seperti rumah sakit atau dirumah.
 Di lingkungan rumah sakit tersedia peralatan standar dengan beberapa alat tambahan.
 Di rumah, papan atau meja setrika dapat digunakan sebagai alas resusitasi dan hati-hati agar tidak terjadi aspirasi. Penyesuaian alat untuk di rumah meliputi; kotak peralatan dasar portable yang dapat difungsikan secara efektif.
 Apa persiapan alat untuk melakukan resusiatsi?
o Alat pernafasan siap pakai
o Oksigen
Dibutuhkan sumber oksigen 100% bersama pipa okigen dan alat pengukurannya
o Alat penghisap
 Penghisap lendir kaca
 Penghisap mekanis
 Kateter penghisap no. 5F atau 6F, 8F, 10F
 Sonde lambung no. 8Fdan semprit 20ml
 Penghisap mikonium 
o Alat sungkup dan balon resusitasi
o Digunakan untuk meniupkan udara ke paru-paru bayi baru lahir dengan tidak merubah langkah-langkah resusitasi bayi yang benar dan tepat sesuai dengan prosedur. Keuntungannya menggunakan sungkup dan tabung resuscitator ini yaitu penolong dapat melihat pergerakan dada bayi dengan lebih jelas, dan kemungkinan penularan penyakit dari bayi kepada penolong dapat dicegah dan sebaliknya.
 Sungkup berukuran untuk bayi cukup bulan dan kurang bulan/premature (sungkup mempunyai pinggir yang lunak seperti bantal)
 Balon resusitasi neonatus dengan katub penurunan tekanan. Balon harus mampu memberikan oksigen 90 – 100 %. Pipa saluran pernafasan berukuran untuk bayi cukup bulan dan kurang bulan. Oksigen dilengkapi alat pengukur aliran oksigen dan pipa-pipanya.
o Alat intubasi
 Laringoskop dengan lidah lurus no. 0 (untuk bayi kurang bulan) dan no. 1 (untuk bayi cukup bulan)
 Lampu dan baterai ekstra untuk laringoskop
 Pipa endotrakeal ukuran 2,5; 3,0; 3,5; 4,0 mm
 Stilet
 Gunting
 Obat-obatan
 Sarung tangan 
o Obat-obat
 Epinefrin 1:10.000 dalam ampul 3 ml atau 10 ml
 Nalokson hidroklorit 0,4 mg/ml dalam ampul 1 ml atau 1 mg/ml dalam ampul 2 ml
 Volume exspander, salah satu yang berikut ini:
• 5% larutan albuin saline
• Larutan NaCL 0,9%
• Larutan ringer laktat
 Bikarbonat natrikus 4,2 % (5 mEq/10 ml) dalam ampul 10 ml
 Aquades steril 25 ml
 Larutan Nacl 0,9 %, 25 ml
o Lain-lain
 Stethoscope bayi
 Plester ½ atau ¾ inci
 Semprit untuk 1,3,5,10,20,50 ml
 Jarum berukuran 18,21,25
 Kapas alcohol
 Baki untuk keteterisasi arteri umbilikalis
 Kateter umbilkus berukuran 3,5f; 5f
 Three way stopcocks
 Sonde lambung berukuran 5f 
Paling sedikit 1 orang siap dikamar bersalin yang terampil dalam melakukan resusitasi bayi baru lahir da 2 orang lainnya untuk membantu dalam keadaan resusitasi darurat.
Bagaimana prosedur atau pelaksanaan resusitasi bayi?
1. Pindahkan bayi ke area resusitasi. Pada saat yang bersamaan:
- Kirimkan panggilan gawat darurat ke personil yang cepat
- Hidupkan jam dan catat waktu
- Nyalakan pemanas dan lampu
- Keringkan badan bayi secara menyeluruh, dang anti handuk yang basah, bungkus bayi dengan handuk bersih dan hangat dengan dada terbuka.
2. Atur posisi kepala bayi dengan posisi “mengendus”, tidak terlalu menengadah dan terlalu menunduk karena dapat menutupi jalan nafas. Dengan menggunakan kateter ukuran 8FG, lakukan pengisapan pada rongga mulut dengan hati-hati, jangan samapai menyentuh bagian belakang tenggorokan
3. Sekarang, dengan jalan nafas yang sudah paten, terbuka dan bersih, kaji frekuensi jantung, pernafasan dan warna kulit bayi:
 Bila bayi tampak merah mudah, dengan denyut jantung lebih dari 100/menit (dpm) dan bayi bernafas secara spontan: hangatkan bayi dan kembalikan pada orang tuanya
 Bila bayi bernafas tidak teratur (dangkal atau lambat) dengan sedikit sianosis, tetapi denyut jantung lebih dari 100x/menit:
- Berikan oksigen 5 liter/mnit dengan selang atau corong (tangan dapat di tangkupkan untuk membentuk corong)
Respons terhadap cara sederhana ini harus sudah terluhat dalam 30 detik. Bila sianosis hilang serta pernafasan dalam jumlah dan pola yang normal, bayi dikembalikan ke orang tuanya
 Bila tidak ada respon terhadap tindakan yang dijelaskan dalam pada no. 3.2 diatas, missal nafas terengah-engah, apnea, frekuensi jantung < 100 dpm, atau bayi tampak pucat:
a. Pastikan kepatenan jalan nafas
b. Lakukan inflasi paru dengan BVM. Ukuran masker yaqng benar harus digunakan agar benar-benar menutup mulut dan hidung bayi, tidak melampaui dagu atau lekukan mata. Ujung jari digunakan untuk menopang rahang dan menutup masker (memegang bagian bawah dagu juga akan menutup jalan nafas).
kantong (dengan katup pengaman yang pada awalnya di set pada 30 H2O) ditekan, 1 fentilasi berlangsung sekitar 1 – 2 detik dada harus naik dan turun secara perlahan setiap terjadi fentilasi,; keepatannya harus 30 – 40x nafas/menit (RCPCH,RCOG,1997). Bila dada tidak terlihat naik, bidan harus melakukan pengkajian terhadap kepatenan jalan nafas bebas dan penggunaan masker.
c. Setalah fentilasi selama 15 – 30 detik, kaji frekuensi jantung dengan merabanya dibagia apeks jantung atau di bagian bawah tali pusat. Hitung selama 6 deti kemudian kalikan 10 untuk mengitung banyaknya denyut dalam 1 menit.
d. Teruskan BVM sampai terjadi pernafasan spontan dan bila frekuensi jantung lebih dari 100 dpm. Bila frekuensi jantung antara 100 dan 60 dpm, lanjutkan fentilasi efektif dan kaji ulan setelah 30 detik.
2. Bila frekuensi jantung kurang dari 60 dpm, lakukan kompresi jantung: garis imajinasi di buat diantara putting susu; jari telunjuk dan jari tengah diletakkkan di tengah-tengah sternum tepat dinawah garis, kemudian dada ditekan sampai kedalaman sepertriga dada (1 – 2 cm). melanjutkan fentilasi yang efektif pada paru dan bahwa kompresi jantung dapat disinkronkan dengan fentilasi merupakan hal yang sangat penting. Kecepatan sinkronisasi adalah satu femntilasi diikuti dengan 3 kompresif (1:3). Selama 6 detik harus dilakukan sebanyak 3 siklus fentilasi kompres. Secara ideal diperlukan 2 orang untuk melakukan resusitasi ini, 1 orang menghitung dengan keras, sehingga konsentrasi dapat dipertahankan. (terdapat standar resusitasi 1:5 untuk semua kelompok umur, dengan demikian hal ini boleh dilakukan pada bayi.
3. Dengan kompresi jantung, frekuen jantung sering meningkat dengan cepat sampai lebih dari 80 dpm. Bila dalam waktu 30 detik tidak berhasil, dokter anak akan mempertimbangkan pemberian obat dan memindahkan bayi ke unit perawatan yang lebih kompleks. Meskipun demikian, penyebab paling banyak terjadinya penurunan frekuensi jantung adalah fentilasi paru yang tidak efektif.
DAFTAR PUSTAKA
 Johnson, Ruth dan Wendy Taylor. 2004. Praktek Kebidanan . Jakarta : EGC.
 Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiohardjo.
 Prawirohardjo, Sarwono.2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
 Ramali, Ahmad, 2000, Kamus Kedokteran Arti dan Keterangan Istilah, Cet.24, Jakarta; Djambatan

>>